Tips

2 Perbedaan P2P & Pinjaman Online

Jasa keuangan berbasis teknologi (financial technology) di Indonesia makin hari semakin bertumbuh subur. Masyarakat Indonesia pun semakin familiar dengan berbagai pilihan dan layanan transaksi financial technology (fintech). Jika dulu sumber pinjaman berasal dari teman, keluarga dan bank, sekarang masyarakat telah beralih ke fintech. Dari berbagai macam jenis fintech yang tersedia, ada dua yang paling populer yaitu payday loan atau yang kita kenal dengan pinjaman online dan peer to peer (P2P) lending.

5 Hal perbedaan pinjaman online dengan P2P Lending

Jenis pinjaman
Aspek pertama perbedaan pinjaman online vs P2P Lending terletak pada jenisnya. Pinjaman online sifatnya berupa pinjaman pribadi untuk kebutuhan yang mendesak atau darurat. Sedangkan P2P Lending, biasanya pinjaman berupa modal usaha untuk kelancaran arus kas bisnis.

Waktu pinjaman
Aspek kedua adalah waktu (tenor) pinjaman. Tenor pinjaman online, harus dibayarkan pada satu waktu, tidak bisa di cicil dan dikenai biaya tambahan jika peminjam terlambat membayar. Sedangkan di P2P Lending, tenor pinjaman berkisar dari 30 hari sampai 12 bulan.

Tingkat bunga
Pinjaman online menawarkan bunga harian mulai 0,8% per hari atau 292% per tahun sedangkan P2P Lending hanya menawarkan bunga yang relatif rendah mulai dari 16% sampai 30% per tahun. Mengapa bunga P2P Lending lebih rendah dibandingkan pinjaman online? Hal ini disebabkan P2P Lending senantiasa mengacu pada tingkat bunga pinjaman bank atau lembaga keuangan lainnya dengan menekankan poin aksessibilitas dan kecepatan proses serta persediaan dan permintaan di mana pemberi pinjaman turut melihat kondisi pasar. Selain itu, P2P Lending tidak mengambil keuntungan dari biaya bunga karena keseluruhannya menjadi milik pemberi pinjaman.

Tingkat risiko
Aspek keempat yang membedakan pinjaman online dengan P2P Lending adalah tingkat risiko. Di P2P Lending pada umumnya, risiko gagal bayar akan ditanggung pihak pendanaan sesuai aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sehingga wajar saja jika sebagian besar perusahaan P2P Lending tak sembarang memberi persetujuan kepada calon peminjam yang tidak layak secara credit scoring.